09 October 2011

aku pernah menanam pohon

aku pernah
menanam pohon tetapi dengan hati marah
tak rela kisruh dan rusuh
pohonku tumbuh kurus sakit-sakitan
meranggas dan akhirnya mati

aku pernah menam pohon dengan senang dan ramah
welas asih ikhlas dan tanpa pamrih

pohonku tumbuh subur hijau dan berguna
banyak orang senang dan memuji melihatnya



9/10/11

25 August 2010

Fragmen


pada tikungan ke-99



pada tikungan yang ke sembilan puluh sembilan perempuan tua buta itu menghentikan langkahnya yang sudah mulai gemetaran. ditariknya kembali nafasnya lebih dalam, seakan ingin membenahi rasa gugupnya. lalu sembari memandang mentari di kejauhan yang tinggal segaris lengkung saja tenggelam di ufuk barat. disusutnya keringat di keningnya. sengaja ditatapnya sekali lagi matahari merah tembaga itu. seolah ia ingin mengeluh atau entah apa, tapi urung, maka tak ada yang terucap dari bibir tipisnya.


dan ketika sempat ia mendongak, tampak wajahnya yang berpeluh penuh kerutan. tetapi jelas, pada wajah itu masih tersisa masa lampaunya yang cemerlang. pastilah ia seorang wanita cantik jelita dulunya. hidungnya mancung dan matanya yang beralis tebal, meskipun buta, jelas, ya jelas mata itu benar-benar melengkapi kecantikan wajahnya. dan rambutnya yang sudah berubah perak hanya tinggal segenggaman digelung ditusuk dengan sindik gading berwarna kuning.


"usahlah menunggu aku..." desahnya lirih hampir tak terdengar bahkan oleh angin yang lewat di sisinya, sambil kembali menatap ke kejauhan, ke arah sang surya hampir tenggelam. dan matahari itu seakan berhenti mendengar apa yang didesahkan mulut perempuan tua buta berambut perak tinggal segenggam itu. "biarkan aku temukan jalanku sendiri, sayang...! tak usah dikau susah payah membimbingku. tak usah kau menunjuki arah mana mesti kutempuh. ini pasti yang terakhir. ini pasti yang terakhir kali."



serentetan kata-kata lirih terdengar dari mulutnya. diucapkan dengan suara dalam. penuh kekhusyukan menyebut satu nama yang diulang-ulang terus-menerus. dan perlahan tubuhnya melorot hingga jatuh terduduk di tanah. tinggal tongkatnya yang masih berdiri tegak erat-erat dipegang oleh kedua tangannya. perempuan tua buta berambut perak tinggal segenggaman itu tertunduk dalam-dalam. angin seakan terhenti seketika. sepi merentangkan seluruh tangan-tangan gaibnya menangkap senja.
dan gelap pun turun
malam tiba ...





.


margonda , juni 2010

 .........................................: esai-esai






 

23 August 2010

puisi

rumah


kelak di rumah tempat kediamanku dikau akan dapat melepaskan seluruh kelelahan dari perjalanan panjang pengembaraanmu. datanglah. dan hatimu akan selalu merindu. rumah itu menghadap padang tandus maha luas dan tanpa batas. itulah pekarangan rumahku. di sanalah semua utusan turun ke bumi. bakal dikau saksikan. dari segenap penjuru mataangin mereka melesat turun dan naik. serupa cahaya. serupa cahaya. dengan senyum dan penuh keramahan mereka akan datang singgah ke rumahku sebelum melunaskan seluruh tugas. bertegur sapalah. beramah tamahlah.
kelak rumah kediamanku adalah tempat singgah dan peristirahatan bagi para pengembara yang kelelahan seperti dikau.
kelak rumah kediamanku adalah masjid dan gereja, pura dan vihara bagi pengembara lelah seperti dikau.
kelak rumah kediamanku adalah perpustakaan abadi tempat pengembara kelelahan seperti dikau mereguk seluruh ilmu yang tak pernah kau temu.
kelak rumah kediamanku adalah mimbar bagi para pengembara kelelahan seperti dikau.
kelak rumah kediamanku adalah graha tempat merundingkan seluruh perdamaian dari peperangan panjang...


Margonda, Agustus 2010






03 August 2010

di stasiun dan sms oneng


di stasiun

tiba-tiba saja kau bertanya di stasiun mana aku sedang menunggu. 
tak kuduga kau tergugah juga sms isengku beberapa bulan yang lalu
aku memang masih di stasiun itu
tempat aku tak pernah jemu-jemu
terus menunggu
dan tak perlu aku kisahkan kembali harubiru masa dulu
di sinilah tempat untuk menunggu
tapi jangan,  jangan sekali-kali dikau bayangkan 
stasiun tempatku kini menunggu
seperti stasiun-stasiun kota 
di mana kereta selalu datang pergi tepat waktu
datang begitu cepat dan secepat itu pula segera berlalu
bayangkanlah aku yang perempuan dan perawan
menunggu berhari-hari berbulan-bulan
sampai rambut jadi beruban
menunggu berhari-hari berbulan-bulan
sampai bangku peron jadi karatan
o, tapi apalah peduliku
berhari-hari berbulan-bulan
menunggu sampai rambut jadi beruban
toh mereka, juga dikau, tak pernah tahu
aku sedang menunggu kereta yang menjemputku PULANG


margonda, 2005







SMS Oneng

dengan sinis kau mengejekku
kamu seperti filsuf. kamu seperti sufi
kamu seperti ahli tasauf. kamu sok seperti nabi
kamu sebetulnya sedang menimba apa?
agama kamu bisa. sastra kamu juga biasa
dan matematika kamu tak percuma
tapi politik kau singkirkan karena kau bilang takut jadi gila
ah, kamu seperti oneng!
kututup sms darimu. kupejamkan mata. lalu tersenyum dan geli di dalam hati
oneng? gumamku
lalu kutulis sms membalas ejekan lucumu itu:
oneng yang mana?
tetangga sebelah rumahku namanya oneng
teman ibuku yang sibuk di pkk dan posyandu namanya oneng
guru sosiologiku di sma dulu cantik sekali
dan banyak murid lelaki kesemsem jatuh hati padanya, namanya juga
bu guru oneng
teman kostku dulu juga oneng
aku cemburui gadis yang pernah merebut kekasihku, namanya pun oneng
cut nya’ dien, martina marta tiahahu, ibu kita kartini putri sejati, madam theresia,
ibu tien, margareth teacher, madam hilary clinton, ratu elizabeth, corazon,imelda,
semua sama: oneng juga
ken arok si maling brandal pencoleng kampung yang jadi raja singosari itu,
kamu tahu? nama ibunya kamu tahu? juga oneng!
bahkan janda tunggul ametung yang kemudian dikawininya itu juga bukan ken dedes, melainkan oneng!
ibunda osama bin laden, nurdin m. top, dan azahari: juga oneng!
kuterima dengan senang hati kau sebut diriku oneng
karena aku memang oneng
janga-jangan kamu juga oneng
ibumu juga oneng
nenekmu juga oneng
oneng!
oneng duduk di kelas satu
oneng mengajar kelas satu
oneng murid oneng. oneng guru oneng
oneng menjadi murid
oneng menjadi guru
oneng menjadi kepala sekolah
oneng menjadi komite sekolah
oneng menjadi penilik
oneng diajar oneng. oneng diawasi oneng
oneng semua oneng
oneng
oneng


margonda 2005





01 October 2007

kali

kali ini pilihan terakhir
kerna dua kelokan lalu membuat aku ragu
hari-hariku adalah bagian dari abad-abad
mengalir pada kali ini menuju ke lautmu
biar koreng dan dakiku hanyut pada air ini
dan kuharapkan pula kerna hulu terlalu jauh
sedang muara entah di mana
jika batas laut tampak ingatkan kembali aku
pada masa aku mengerutuk gambarmu dalam angan
agar aku tetap pada alirmu
pada kali bening sejuk ini
barangkali sampai juga pada lautmu
tempat bersatunya berlaksa-laksa kali

depok, 28 nop ’88


kepada burung sriti

kepada burung-burung sriti yang menangisi hujan
tak datang, aku katakan : sabarlah!
Tuhan tengah memindahkan mega-mega itu.

magelang, 28 agustus ’88


kali 2

pada kedatangan sakitku yang kedua
matahari telah mulai tinggi
kutuk-kutuk lama telah kubiarkan mengalir
hanyut bersama air
kelokan telah kembali pula pada induknya
kali kembali mengalir tenang
dan kuyakin inilah yang pasti mengalir
ke muara – lautmu

depok, 28 nop ’88



cabang dua

masalahnya di balik jendela mana aku harus memandang
dua jendela terbuka sama lebar
menghadap arah yang sama

depok, 29 nop ’88









kali 3

kurinduanku kini tertuju pada dua merpati
yang aku lepaskan dari sangkarnya
untuk menanyakan kabar kapan jadinya kita jumpa
di muara yang mana kita berjumpa
untuk suatu perdamaian
aku masih bertanya-tanya di muara mana kita bertemu
atau masihkan akan kutemui kelokan lagi
aku kira inilah induknya
yang bakal menuju muara sebenarnya
mencapai batas lautmu
mencapai batas lautmu
sementara kubiarkan koreng dan daki hanyut
bersama lelumpuran
kukenang-kenang kembali saat kemarahan kita berdua
ah, tapi betulkah engkau marah
sedang sepi tetap saja tal kudengar


depok, 28 nop ’88



jahiliyah


tuhan-tuhan paslu menangis
di tengah mayat malaikat mereka
yang mati oleh kemurkaan mereka
sampai damai hanya sebuah mimpi
mimpi yang menyemai harapan pada jalan panjang

lalu yang lain
risaukan mimpi yang tak datang jua
risaukan tuhan-tuhan yang berteriak
mendorong dan menyeret mereka kepada perang
risaukan zaman yang semakin tak terpahami
menganiaya dan membelenggu jiwa-jiwa rapuh

depok, juli ’89





Zaman
barangkali kita memang harus berjalan terus
sambil tetap mencoba memahami zaman ini

barangkali zaman yang dulu pernah sirna
bakal datang menjelang di ujung jalan kita
atau justru tengah melanda di antara kita
: saat tuhan-tuhan lain bermunculan
memaksa ketakberdayaan kita untuk tunduk
dan menghamba

bukankah Allah dan Muhammad adalah yang pertama
dan terakhir
bukankah sudah selesai kita renungi dongeng tentang
firdaus dan kesabaran Ayub

barangkali kita harus berjalan terus
sambil tetap memahami zaman renta ini



zaman 2
ada yang ingin kukembalikan kepadamu
anak-anakku yang manis
: dendang berzanji

ada yang ingin kukembalikan lagi kepadamu
: gemuruh kaki-kaki berdebu berkejaran berebut
senja di latar langgar

ada kegelisahan dalam hatiku
kerna kalian tak mengerti alif ba ta
dan alergi dongeng nabi
kerna kalian tak kenal ketegaran Ibrahim
dan kesabaran Ayub


kurban
di sini tak terdengar suara letusan mesiu
hanya takbir dan beduk yang bertalu
dan kambing-kambing itu sedang menunggu
algojo-algojo menebas batang leher mereka
dan lalu darah mengucur ke lobang-lobang pembataian
bukti, ya bukti kepada bumi bahwa masih ada simbol-simbol itu
dalam hidup yang jalan ini

lagipula darah itu adalah darah ketenteraman
kerna tak ada letusan mesiu di sini
kerna ada takbir dan suara beduk di sini
kerna tak ada teriakan tuhan yang membelenggu
dan menganiaya jiwa kita
hari ini damai
juga bagi domba-domba itu





kurban 2
apakah kita akan menjadi domba-domba
yang tanpa berontak – menurut saja
digiring menuju ke atas lobang pembataian
oleh kita sendiri
lalu kita yakin dengan begitu saja
bahwa itu kodrat

atau kita akan menuliskan nama,
umur kita di atas nisan kita
sebab kita tahu
bakal jadi korban selanjutnya

kurban 3
apakah kemenangan kita akan berakhir
seperti kambing-kambing yang tanpa
mengerti sebab apa harus teringkus
di atas lobang pembantaian
kita korban yang keberapa dari tangannya?


Depok, juli ’89